Posts

Showing posts with the label inspirasi

06012017

“bagaimana ini? Semua sudah pada mau pulang. Sebentar lagi malaikat datang. Apa Bapak bisa jawab tiap pertanyaan?”. -percakapan jum’at kelabu- Jum’at pertama di 2017, sebuah takdir bernama kehilangan bertamu dikediaman seorang sahabat. Ia datang tentu dengan titah dari Sang Maha Pemilik semesta, membawa pulang apa yang DIA titipkan. Jum’at berkabung itu benar diselubungi kelabu, langit pun seolah mempertegas takdir yang telah DIA tetapkan jauh sebelum hadirnya kita di dunia. Maka bila langit saja dapat kelabu hingga merinaikan hujan dariNya apa lagi hati. Sekuat apapun manusia, pada kehilangan tentu hatinya rapuh jua, entah sebentar atau dalam waktu yang lama.

“mengapa” menjadi “untuk apa”

Doa, Ra, doa mengajarkan kita tentang kebaikan dariNya yang lagi-lagi membanjiri hambaNya. Diilhamkan kepada kita untuk meminta padaNya agar dekat denganNya, dikabulkan doanya meski dalam bentuk berbeda juga bagian dari takdir baikNya. Tapi kau tahukan Ra, kadang doa kita pulang tak sesuai yang kita harapkan, diwaktu yang tak kita inginkan. Lantas kita menduga; mengapa DIA tak mengabulkan pinta kita? Mengapa yang hadir berbeda? Mengapa? Mengapa? Bukankah pada pengabulan juga terdapat ujian?. Ujian kepercayaan. Ujian berbaik sangka pada tiap takdirNya. Hingga kita bisa mengubah pertanyaan dari; “mengapa” menjadi “untuk apa”. Ya, untuk apa semua ini kita perlu alami? Untuk apa doa kita diijabah berbeda?

Doa

“ Aku tidak memikirkan tentang pengabulan doa. Yang aku pikirkan bagaimana aku bisa berdoa, Karena ketika aku diberi ilham untuk berdoa, maka pengabulan akan selalu menyertainya” .  -Umar Bin Khatab, ra- Segara, tiap kita tentu pernah melangitkan doa bukan. Doa yang kita yakini akan diijabah olehNya diwaktu yang paling tepat dan dalam bentuk yang kita butuhkan menurutNya. Keyakinan kita bukan berdasar pada katanya tapi kata DIA yang tertoreh dalam firmanNya sejak 1400 tahun silam. Ra, bukankah kita juga telah mafhum bahwa semesta yang kita huni ini termasuk diri kita tak luput dari pengaturanNya? Daun yang gugur saja DIA telah tetapkan waktunya apa lagi perihal hambaNya. Termasuk doa kita. Kapan dan apa yang akan kita pinta juga termasuk didalamnya bukan? Sederhananya, seperti kata Umar diatas, doa yang kita panjatkan adalah ilham dariNya. Maka bukankah itu berarti ilham untuk meminta telah DIA sertakan pengabulan dari Nya? DIA mengilhamkan kita untuk berdoa Karen...

Pulang

Pada dasarnya setiap manusia memiliki kerinduan untuk “pulang” kepada TuhanNya. Meski itu setitik kecil dihatinya. Manusia berangkat meninggalkan Tuhan melalui kelahirannya di dunia. Lalu, kembali “pulang” melalui perjalanan panjang di dunia hingga kematiannya. – Abdullah pada Kasva- (Muhammad Sang Pewaris Hujan) Pulang dan sebuah perjalanan panjang menuju rumah yang sejati. Ada dua  jalan yang DIA bentangkan; shiratalladzina an’amta’alaihim atau al-maghdlubi’alaihim. Pada hati dan akal kita DIA beri kecenderungan untuk memilih jalan mana yang akan kita lewati. Dan aku yakin tiap diri pernah merasakan kerinduan ini, kerinduan pada jalan terjal dan penuh pengorbanan. Kau tahu kenapa aku begitu yakin bahwa meski sekali dalam tarikan nafas, kita pernah merasakan rindu ini? Siapapun dan dari manapun kita berasal, sekelam apa hidup yang sedang kita jalani, kita pernah merasakannya. Kau tahu Umar bin Khatab bukan? Kau tahu bagaimana perjalanan “pulangnya menuju rumah”? ...

Iman

Hari-hari ini kita dihadapkan dengan sebuah keterkejutan, hal diluar nalar materiil manusia. Mereka bertanya, akankah hal demikian dapat terjadi tanpa dorongan hasrat duniawi (baca uang)? Bagaimana mungkin orang sebanyak itu berkumpul hanya karena ketersinggungan terhadap penghinaan yang bukan ditujukan pada pribadi melainkan sebuah keyakinan? Bukankah mustahil dizaman ini ada yang bersedia merelakan hartanya untuk membela keyakinannya?  Maka izinkanlah dirimu untuk ku ajak bernolstalgia, mendatangi sejarah manusia-manusia terbaik disepanjang zaman, mempelajari apa yang telah mereka torehkan sebagai sebuah ketauladanan untuk kita pun generasi setelah kita. Tentang bagaimana iman merubah pandangan mereka terhadap dunia.  Iman, semacam dorongan yang menjadikan Bilal bin Rabbah bersedia dadanya ditindih batu sedang tubuhnya dihamparkan ditengah padang pasir yang begitu panas, namun mulutnya tak berhenti berkata ; ahadun ahad. Menjadikan Mus’ab bin Umair bersedia menin...

Menjalani Hidupmu Sendiri(an)

Seberapa menarik kehidupan orang lain dimatamu. Seberapa inginnya dirimu menjadi sebahagia mereka dianganmu. Kau tak akan pernah bisa sampai pada semua itu sebab tiap jiwa telah ditetapkan jalan takdirnya. Bukankah hidupmu itu adalah menjalani apa-apa yang telah ditakdirkanNya untukmu sendiri, senja? Ada bahagia dan nestapa yang DIA gilirkan sebagai ujian untukmu, hambaNya. Tapi takdirNya bukankah ada andilmu juga didalamnya? Kau memilih satu takdir sehingga kau berlepas dari takdirNya yang lain. Maka ada pertanggung jawaban dari dirimu padaNya diakhirat kelak atas pilihanmu itu. Pilihan yang kau ambil adalah hidupmu itu sendiri saat ini dan nanti. Kau adalah pemeran utama dari cerita hidupmu itu. Maka kaulah yang akan menjalani hari-harimu bukan orang lain dan bukan menjalani pilihan hidup orang lain, seberat apapun jalan yang kau pilih. Dalam menjalani pilihanmu itu barangkali akan ada andil orang lain, berupa masukan ataupun saran. Hanya saja semua itu selalu kembali p...

Sinergi

Apa kau percaya senja, tujuan yang sedang kau perjuangankan ini ternyata juga sedang diperjuangkan oleh orang lain. Lalu semesta menjalankan titah Tuhannya, mempertemukan kalian yang setujuan, dan kemudian membersamakan kalian atas nama tujuan yang sama. Tujuan-tujuan ini menjadikan dirimu dan mereka memilih bersepakat untuk bersama meraihnya. Merancang tahap demi tahap untuk selangkah lebih dekat pada tujuan kalian. Maka kau dapati dirimu dan mereka membincangkan banyak hal, dan kemudian membagi peran, kata orang pada umumnya kalian sedang bekerjasama. Bekerja bersama katamu disuatu jeda adalah sebuah kenikmatan dariNya. Bagaimana tidak, beberapa kepala dengan isi yang tentu berbeda meski memiliki niat yang sama memilih untuk menuangkan ide yang mana tak semua idenya bisa diterima, menahan egoisme diri. Tak jarang perdebatan dan adu gagasan terlontar dari lisan kalian, barangkali saat itu ada yang merasa kecil hati atau mungkin merasa tak dianggap, tapi semua itu tak menjadik...

Teruntuk Kita Setelah Mereka

ALLAH, betapa Engkau begitu Maha Baiknya, kepada Sang Suri Tauladan telah Kau risalahkan Al-quran yang dengannya hamba-hambaMu berpedoman, didalamnya tak hanya berisi petunjuk jalan keselamatan melainkan hikmah atas segala perjuangan para Anbiya. Takjub sudah barang tentu, Al quran memang bukan kitab yang menceritakan detail peristiwa sejarah namun kejadian yang telah lalu dan bahkan manusia tak tahu persis ceritannya Engkau telah  firmankan dalam Al quranMu. Benar, Al quran adalah pedoman, sekaligus hujjah untuk Rasulullah sallahu ‘alaihi wasallam dalam mengemban amanahnya, maka hadirnya kisah para Nabi terdahulu seoalah bekal perjalanan baginya dan tentu bagi kita setelahnya. Terkisahlah Ibrahim as, pejuang dengan hujjah yang jelas dan terang. Darinya ALLAH memberi pelajaran bagi para penyembah berhala bahwa bagaimana bisa yang tak mendengar, tak berbicara dan tak bisa berbuat apa-apa dapat memberi bantuan. Lalu apa yang menjadikan manusia berani menyembahnya? Siapa ...

DIA

Betapa ALLAH Maha Baik ya segarA, telah DIA tetapkan hati kita untuk cenderung merasa nyaman dengan kebaikan, lalu DIA kirimkan bala bantuan untuk menjadikan kita menang ditiap proses ujian kebaikan dan DIA hanya menilai proses yang kita lalui bukan hasil yang kita torehkan padahal DIA juga memudahkan proses itu.   Moga ditiap kebaikan yang sedang kita upayakan selalu tertakdir kemenangan ya rA, menang atas ujian . :’) seNja, Agustus 2016 Tags: Inspirasi

Teruntuk Tiap Tanya

Menyadari betapa DIA telah menetapkan yang terbaik bagi hambaNya termasuk dirimu itu memang tak serupa matahari yang tak pernah lupa sekalipun untuk terbit, kadang kau akan dihujani tanya dan rasa yakinmu seperti sedang ditimpa gempa. Hidup katamu kelihatannya serupa benang kusut yang basah pula. Dibenakmu ribuan tanda tanya itu menjumpa dalam rupa peristiwa; “ada  yang datang, menetap, pergi, meninggalkan jejak. Semua itu untuk apa?.” Peristiwa-persitiwa itu ada yang berulang meski dengan wajah yang  berbeda, ada yang tak kau sangka-sangka. Ada yang menghadirkan tawa hingga kau merasa ingin berlama selamanya, namun ada juga yang tak hanya sekali menghadirkan gerimis hingga deras melebat. Lalu kau dapati dirimu sendiri, bergumul dalam tanya yang lagi-lagi  dijawabNya dengan peristiwa, kali ini kau lebih peka, kau dimampukan untuk menyadari makna dari tiap jiwa yang kau jumpa. Bahwa setiap jiwa adalah guru bagi dirimu, meski yang paling menghadirkan luka s...

Hamba

Perasaan hampa yang mendekam dalam jiwa barangkali pertanda ada yang kau butuhkan lebih dari sekadar waktu luang untuk katanya liburan, karena bukankah liburan tak serta merta mengusurkan kosong di hatimu? Telah kau terima waktu untuk menghapus habis segala penat dan jenuh yang memenjarakanmu. Telah kau kunjungi yang katanya tempat penghilang penat, tetapi selepas itu penatmu masih disitu. Telah kau jumpai segaramu, meski saat itu kau bisa menarik nafas dengan riangnya, namun selepas itu (lagi) hanya ada hampa yang setia menemanimu. Kau bertanya;” adakah yang salah dengan ini semua? Adakah yang belum aku lakukan untuk sekadar merasa lebih ringan? “ Barangkali yang kau butuhkan adalah jujur pada dirimu bahwa hampa itu adalah pertanda kau telah memandang dari sudut yang salah, bahwa bahagia yang kau cari bukanlah tentang seberapa luang yang kau punya untuk menikmati ‘dunia’ melainkan seberapa siap kau melepaskan ‘dunia’ untuk kembali menjalani tujuan hidup yang sesungguhnya ...

Istidraj

Image
Semalam dikirm gambar oleh salah seorang gurunda. Ya Rabb, jangan-jangan selama ini aku termasuk didalmanya.  Bila maksiat masih ringan kita lakukan namun nikmat selalu Dia berikan. Lalu diri merasa biasa saja bahkan cenderung berbangga merasa menjadi yang selalu dikabulkan pintanya.  Padahal itu adalah jebakan, jebakan dengan nikmat yang Dia segerakan (Istidraj). Terngiang kembali salah satu pesan gurunda Salim A. Fillah pada saat bedah buku lapis-lapis keberkahan kemarin. Tentang bagaimana ALLAH mengabulkan pinta kita. "Bila kau didatanagi pengamen bersuara cempreng, nada dan liriknya seperti sedang berkelahi. Agar dia segera pergi, bukankah kau akan secepatnya memberi apa yang dia ingini?. Sebaliknya, bila yang mendatangimu adalah pengamen yang bersuara merdu bak penyanyi papan atas. Kau begitu menikmati tiap lirik yang dia senandungkan, maka kau sedikit menunda memberi apa yang dia hajati. Begitupun ALLAH, bila apa yang kita ingini terasa begitu cepat Dia...

Saudara Fillah

Kau tahu apa yang paling aku khawatirkan dari manisnya persaudaraan kita? Ialah aku yang tak lagi mampu memenuhi hakmu sebagai saudaraku, ialah aku yang menjadikan ukhuwah dan cintamu padaku bak sekat yang membatasi kita untuk saling mengingatkan saat alpa dan keliru menjumpa. Saudaraku fillah, dalam perjalanan yang kita susuri ini adalah sebuah anugerah diberi nikmat bersaudara meski tak ada ikatan darah. Iman yang ada didada adalah benang merah yang mengikat kita, dengannya kita memahami pentingnya bersama dijalan menujuNya. Perjalanan yang kita lalui telah kita insyafi sebagai jalan yang sepi dan bertemankan sunyi, maka tatkala bertemu yang setujuan terasa mendaki jauh lebih mudah dan riang. Meski bersama kadang membuat perjalanan kita sedikit lebih lama, karena ada beda yang harus kita selaraskan ditiap perjumpaan. Bagiku beda mu dengan ku bukanlah masalah selama ia bukan soal aqidah dan selama kita mampu mengelolahnya, kadang aku yang harus maklum dan paham, pun kamu se...

Langit 18

Pada pertemuan yang sekilas aku tentu perlu meghaturkan terimakasih, bersebab darinya aku telah dibuat suka lalu jatuh cinta. Disalah satu dinding gedung SMAku semasa itu, logo mu tergambar, tentu mengundang tanya. Tetapi niat tak mampu terwujud oleh waktu dimasa itu. Lalu 2009, untuk pertama kalinya gambar yang ku lihat mengajakku ke dunia baru. Dunia yang ber-rupa imaji bagiku. Ya, untuk ukuran lulusan anak SMA biasa sepertiku memasuki dunia itu seperti diajak berimajinasi. Aku belum utuh mengenalnya. Pernah suatu masa aku di semesta imajinya memintanya melepas genggamanku, ya imaji yang ku bangun amatlah sulit ku pertahankan saat itu. Bukan karena ia tapi aku, saat itu merasa sudah begitu sulit menjangkau imaji yang dihidupkannya.  Aku beruntung, seseorang dikirm oleh Pemilik Semesta untuk menguatkanku, menjabarkan panjang lebar; “wajihah kita bukanlah sedang membangun imaji yang sulit untuk kau jangkaui, melainkan perlahan saja menjadikan imaji itu nyata. Dalam...

Kebaikan Kebenaran

Kebaikan dan kebenaran kata guru saya itu serupa emas, semua orang suka emas kan? Tapi tak semua orang bisa memilikinya, ya karena untuk mendapatkannya butuh pengorbanan. Ku kira membersamai kebaikan dan kebenaran itu mudah, jalannya mulus pun lapang tentunya, bertabur bunga dan wewangian sepanjang perjalanan dengannya maka manusia tentunya menyukai dan ingin bersamanya. Tapi aduhai, itu hanya kiraan ku saja, karena  kau tahu untuk memulainya apalagi setia bersamanya membutuhkan perjuangan yang akan menguras habis pikiran, tenaga dan tentu rasa. Barangkali kamu akan bertanya; mengapa Dia izinkan yang demikian? Mengapa ketika memulai kebaikan sudah mendapat ujian? Karena bukankah hasil yang kita terima adalah surga yang sudah barang tentu mendapatkannya tak mudah? Karena barangkali Dia ingin melihat seberapa seriusnya kau menujuNya. Dunia yang kau ingin menggenggamnya saja kau kerahkan segala upaya, kau luangkan semua waktumu yang ada, maka apalagi untuk kebahagiaan...

Pahamilah, Sadarilah, Begeraklah

                        Tetaplah bersama, setialah hingga aku bertemu denganNya duhai kesadaran. Apakah untuk melahirkan langkah-langkah tak cukup dengan pemahaman? Bukankah paham - kita yang tahu kenapa, untuk siapa dan kapan memulainya - semestinya menjadikan kita tak lagi memberi ruang bagi alasan untuk duduk melenggang? hening membius sekitar, kepada yang sedang bertanya, jawaban itu datang menyapa: tidak senja, paham dan kesadaran tak selalu seiring sejalan sebab pemahaman tak selalu mampu memberi jalan bagi kesadaran untuk tampil setelahnya.   Bukankah sudah kau baca kisah-kisah mereka; orang-orang yang terpandang karena kepahamannya, namun pahamnya membuat mereka berbelok arah. Kisah mereka terjejak nyata membersamai manusia Mulia. Mereka: Walid Al Mughirah dan Amr bin Hisyam (Abu Jahal). Walid Al Mughirah; kalimatnya bahkan ALLAH abadikan pada salah satu surah cintaNya, Surah Al Mudatsir. Di...