Posts

Showing posts with the label #SerialSenjaPadaSegara

Selamanya(?)

Image
Ra, sepertinya benar setiap orang menyukai konsep selamanya pada apa-apa yang mereka anggap baik dan menerbitkan bahagia. Dan lalu berharap bisa memaku bahagia itu. Padahal di dunia ini apa coba yang benar-benar menetap dalam tetap? Hampir-hampir tak ada bukan.? Lihat saja langit diatas sana, bagaimana bisa berharap ia selalu biru sedang iapun terpastikan membiaskan warna abu-abu, jingga dan lainnya. Atau bagaimana bisa berharap waktu hanya berdetik diangka dimana rasa bahagia itu mengemuka? Ah ya perihal waktu siapa pula yang bisa mengalahkannya? Barangkali hanya ia yang bisa menggandeng konsep selamanya dalam perputarannya. Jadi benarkan di dunia ini tak ada yang selamanya? Tak ada yang bisa terus disitu saja.? Seperti usia yg terus merangkak naik dalam angkanya. Semua bergerak, semua berubah termasuk perasaan tentunya. Maka siapkan cukup ruang di hati mu untuk menerima setiap perubahan itu, agar sewajarnya dalam menggenggam sesuatu, hingga saatnya tiba u...

A

Image
terbanglah menuju rumah Kau bertanya tentang perjalanan, sepasang kaki yang hampir terbiasa sendiri. Lari, berhenti, berjalan. Tak maukah kau ditemani? Kau bertanya pada hati yang telah lama menunggui wujudnya sebuah janji.  Apa yang membuatmu bertahan dalam tanda tanya? Kau bertanya tentang sebuah pemberhentian. Tempat dimana segala penat diluruhkan dan senyum tiada cukup sekali disunggingkan. Adalah rumah. Bolehkah itu aku? Aku, sepasang kaki yang berharap seperjalanan denganmu menuju rumah kita yang abadi.

“mengapa” menjadi “untuk apa”

Doa, Ra, doa mengajarkan kita tentang kebaikan dariNya yang lagi-lagi membanjiri hambaNya. Diilhamkan kepada kita untuk meminta padaNya agar dekat denganNya, dikabulkan doanya meski dalam bentuk berbeda juga bagian dari takdir baikNya. Tapi kau tahukan Ra, kadang doa kita pulang tak sesuai yang kita harapkan, diwaktu yang tak kita inginkan. Lantas kita menduga; mengapa DIA tak mengabulkan pinta kita? Mengapa yang hadir berbeda? Mengapa? Mengapa? Bukankah pada pengabulan juga terdapat ujian?. Ujian kepercayaan. Ujian berbaik sangka pada tiap takdirNya. Hingga kita bisa mengubah pertanyaan dari; “mengapa” menjadi “untuk apa”. Ya, untuk apa semua ini kita perlu alami? Untuk apa doa kita diijabah berbeda?

Doa

“ Aku tidak memikirkan tentang pengabulan doa. Yang aku pikirkan bagaimana aku bisa berdoa, Karena ketika aku diberi ilham untuk berdoa, maka pengabulan akan selalu menyertainya” .  -Umar Bin Khatab, ra- Segara, tiap kita tentu pernah melangitkan doa bukan. Doa yang kita yakini akan diijabah olehNya diwaktu yang paling tepat dan dalam bentuk yang kita butuhkan menurutNya. Keyakinan kita bukan berdasar pada katanya tapi kata DIA yang tertoreh dalam firmanNya sejak 1400 tahun silam. Ra, bukankah kita juga telah mafhum bahwa semesta yang kita huni ini termasuk diri kita tak luput dari pengaturanNya? Daun yang gugur saja DIA telah tetapkan waktunya apa lagi perihal hambaNya. Termasuk doa kita. Kapan dan apa yang akan kita pinta juga termasuk didalamnya bukan? Sederhananya, seperti kata Umar diatas, doa yang kita panjatkan adalah ilham dariNya. Maka bukankah itu berarti ilham untuk meminta telah DIA sertakan pengabulan dari Nya? DIA mengilhamkan kita untuk berdoa Karen...

Beda, Kita

Selain takut akan tidak kepastiannya masa depan, akupun takut akan beda diantara kita. segarA, seperti yang pernah aku sampaikan pada mu sebelum-sebelumnya, bahwa aku adalah perempuan yang pikiran dan perasaanya penuh akan ketakutan. Diantara sekian ketakutan yang ku punya, aku takut tak mampu mengelola beda diantara kita. Padahal beda itu akan selalu ada dan tentu ia juga adalah niscaya. rA, aku memang belum mengenal siapa kamu, darimana asalmu dan kapan kita akan saling menemukan. Tapi aku sadar betapa sama yang nanti menjadikan kita bersama, akan selalu ada beda yang mengemuka. Lalu bagaimana kamu akan menghadapinya rA? Jika beda itu telah begitu mendominasi perbincangan kita, menghadirkan sekat untuk keakraban kita, apa kamu akan menghindar? Atau malah menumpahkan?. Aku, rA, aku akan menjadi yang menumpahkan, saat itu aku akan lebih banyak beradu dalam kata, lalu aku jadi ahli sejarah dan kamu, apakah kamu akan diam saja atau juga sama halnya denganku rA? Aku pernah me...

Sederhanalah, Cinta

Cinta, bukankah ia hanya sebuah rasa dari sekian rasa yang kau punya. Lalu mengapa kau begitu mengistimewakannya? Sederhanalah padanya, Pada cinta Ra, sepertinya aku telah menemukan apa yang semestinya aku pahami. Tentang sebuah rasa yang tiada beda dengan rasa lainnya, memiliki masa untuk dinikmati lalu direlakan pergi. Serupa bahagia pun lara, cinta juga tak selamanya membersamaimu disegala waktu, bukankah begitu ra? Aku selalu menjadi bagian dari mereka yang dalam harinya mempertanyakan maksud Tuhan dari takdir yang DIA tetapkan; mengapa begini? baiknya kan begitu? Kenapa harus aku? Dan sederet tanya lainnya termasuk perihal cinta. Lalu segala tanya itu tak pernah bertemu titik, yang ada hanya koma, kemudian balik pada tanda tanya.  Entahlah ra, segala tanya itu barangkali telah lelah menemuiku yang tiada jengah menjadikannya sasaran panah. Kadang ia memberi clue , dengan sesekali pada kunjungannya membawa serta masa lalu. Katanya, kata tanda tanya itu ra; tengoklah h...

Sisi Kelam

Image
taken by: noey hikari Jangan cintai aku apa adanya, jangan Tuntutlah sesuatu, biar kita jalan kedepan Tulus Dear segarA, sebagai manusia tentu kita telah menginsyafi lemahnya diri. Bahwa kita betapapun kebaikan itu mendarah dalam laku, sisi kelam tetap membersamai. Tentu aku termasuk didalamnya, pun kamu. Serupa bulan, yang tertampil dari kita dan tertangkap oleh indra mereka adalah kebaikan yang tengah dan telah kita laku-kan. Sedang aib, begitu rapi Dia tutupi.  SegarA, pernah kah kau bayangkan, aib kita tertangkap oleh lebih dari sepasang mata? Barangkali tak ada yang sudi mendekati apalagi mengakrabi diri. Atau pernahkah terlintas dipikiranmu, aib kita serupa bau? Semakin banyak keburukan yang kita lakukan, semakin bau aroma yang kita rambatkan. Maka betapa beruntungnya kita, karena Dia pemilik semesta telah sedia menutupi segala aib diri. Kesediaan Dia yang telah menutupi sisi kelam kita, bagiku itu semacam kesempatan untuk membenahi diri. Benar, kita ta...

Rumah

Image
Karena kamu segara maka sudah tentu kamu adalah muara.  Tapi bisakah kamu juga adalah rumah? Segara, kamu tahu rumah kan? Setiap kita mendamba rumah kemanapun perginya, rumah semacam rindu yang tiada purna menjumpa akhirnya ketika langkah telah berjarak dari pijakan nayamannya, ya rumah. Bagimu rumah itu apa? Bolehkah aku membantu menjabarkannya segara? Bagiku rumah adalah ladang, ladang kebaikan, disana iman kita menyatu, visi kita ketemu, langkah kita seirama menujuNya. Bilapun ada hambatan, kita tahu di rumah yang telah menyimpul aku dan kamu menjadi kita adalah riak-riak bahagia versi lainnya. Hambatan itu akan kita sulap menjadi peluang menyemai benih kebaikan di ladang kita, rumah kita.  Maka rumah kita, haruslah menjadi rumah cahaya, rumah yang dengan mudah terdengar ayat-ayatNya bukan sumpah serapah atau makian, rumah yang memenuhi hak tetangganya, rumah yang menenangkan nan membetahkan namun tak memalaskan dan melenakan. Maka rumah kita, tak per...

Tujuan Kita

Apa yang ada dalam benakmu bila senjamu adalah yang memilki cita berbeda denganmu? cita dunianya pun cita akhiratnya? Apa itu tak masalah bagimu? Apa hanya karena telah seagama menurutmu dunia dan akhirat bisa kamu raih dengannya? Tapi aku tidak segarA, menurutku semua itu adalah masalah yang tak sederhana. Bukankah kebersamaan kita adalah wujud dari cita dunia dan akhirat kita? Bahwa bersama akan membuat kita aman di dunia dan akhirat, maka bagaimana semua bisa terwujud bila cita tiap-tiap kita beda? Maka  bukankah seagama saja tak cukup segarA? Kita butuh sama yang lebih dari segama Karena seperti kata kica dalam Teman Imajinya, seagama belum tentu seiman, seiman pun belum tentu se-tujuan (sefikrah).   SegarA, aku berharap kita adalah yang segama pun seiman dan tentunya punya tujuan yang sama, karena kata Kurniawan Gunadi; tujuan yang sama akan mempertemukan orang-orang dalam perjalanan.  Maka untuk bertemu kita tak boleh hanya seagama kan? karena  aga...

Mula

Barangkali Kamu akan terheran-heran atau merasa aku adalah satu diantara keanehan. Bersebab lampu jalan bagiku adalah satu diantara yang mampu mengirimkan ketentraman dariNya. Tapi itulah aku, senja. Seperti biasa, aku bila penatku telah mendominasi pikir dan rasaku maka berjalan adalah tentu menjadi pilihan, tapi entah, hari ini berjalan tak mampu membuat penatku terbenam. Sejenak undangan dari kesukaan ku yang lain menyapa, ku kira ketika disambut temaramnya penatku akan kabur dengan sendirinya, tapi bak pungguk merindu bulan, penatku tak kunjung hilang.  Berjalan lagi, matahari sudah tak mampu lagi bertengger ditempatnya, ya karena waktu malam untuk menyapa telah tiba, tapi penatku masih betah. (senyum membersamai gerimis ) ALLAH.. aku tahu musti kemana. Terimakasih sudah mengirim undanganMu. Laut, ya aku akan kesana meski malam telah benar-benar menyapa. Dibibir talut dimana aku duduk, berteman bintang yang aku tak tahu pasti berapa jumlahnya, pandanganku menjump...

Senja Pada Segara (Serial)

Dear readers, terimakasih telah membersamai perjalanan blogku. Terimakasih atas kunjungan yang entah telah kali keberapa. Moga tiap aksara yang terhimpun dalam kalimat dan paragraf membawa kebaikan bagimu dan aku. Maafkan, atas typo yang tak terhitung banyaknya, moga tak jelimet ketika menjumpanya. Dear readers, malam ini aku akan memulai mem- post sebuah serial. Serial SENJA PADA SEGARA. Perjalanan SENJA di(me)temukan muaranya, SEGARA. Tak setiap  hari mungkin, insyaALLAH seminggu sekali (mungkin juga lebih) aku akan mem post serial mereka. Hope you enjoy read that :) Senja Segara 2 tahun sebelumnya: Perkenalkan semesta, namuku senja. Aku, perempuan yang dianugerahi begitu banyak kenikmatan oleh Rabb Semesta Alam. Aku, perempuan yang penuh dengan ketakutan, bagiku ketakukan adalah kehati-hatian, namun sayangnya kehatian-hatian membuatku kepayahan mengelola nikmatNya yang bertaburan. 2 tahun setelahnya: Aku, segara. Katanya, kata perempuan itu, mmmm… senja...