Menerima

    Akhir-akhir ini aku merasa diriku teramat lelah. Bukan, bukan lelah fisik tapi jiwaku, mentalku seperti sedang berjalan dibersamai berton-ton beban. Menarik napas dan mengembuskannya terasa berat. Seolah tiap tarikan napasku adalah kelelahan dan kesalahan. 

    Aku berjibaku dengan tiap penyelasan, mengapa begini, harusnya begitu. Tapi kuulang terus kesalahan yang sama itu. Entahlah, apa masih ada kesempatan untuk melakukan yang kupandang lebih baik dari kemarin itu. 

    Aku terus bertanya, dari mana aku memulainya. Apa yang harus kuperbaiki terlebih dulu. Mengapa sulit untuk sejenak saja menjadi lebih sederhana melihat semuanya, kemudian belajar untuk menerima.  
     
    Menerima, benar adanya. Selama ini aku memang sulit menerima hal-hal yang kurasa teramat sakit bagiku, yang sudah begitu kuusahakan tetapi gagal, yang tentunya bukan kuasaku. Menerima ternyata adalah hal yang harus kuusahakan diperjalanan pulangku ini. 

    Menerima, kemudian menyederhanakan langkah demi langkah yang harus kuupayakan. Memberi ruang pada tiap doa dan upayaku itu pada takdir Allah yang tentunya tak selalu sama dengan harapku. Lalu, serupa siklus, pada tiap takdir-Nya itu yang pertama harus kulakukan adalah menerima. 




SN

Comments

Popular posts from this blog

Menjalani Hidupmu Sendiri(an)

A

Menangkanlah