Posts

Showing posts with the label orat-oret

Menerima

     Akhir-akhir ini aku merasa diriku teramat lelah. Bukan, bukan lelah fisik tapi jiwaku, mentalku seperti sedang berjalan dibersamai berton-ton beban. Menarik napas dan mengembuskannya terasa berat. Seolah tiap tarikan napasku adalah kelelahan dan kesalahan.      Aku berjibaku dengan tiap penyelasan, mengapa begini, harusnya begitu. Tapi kuulang terus kesalahan yang sama itu. Entahlah, apa masih ada kesempatan untuk melakukan yang kupandang lebih baik dari kemarin itu.      Aku terus bertanya, dari mana aku memulainya. Apa yang harus kuperbaiki terlebih dulu. Mengapa sulit untuk sejenak saja menjadi lebih sederhana melihat semuanya, kemudian belajar untuk menerima.              Menerima, benar adanya. Selama ini aku memang sulit menerima hal-hal yang kurasa teramat sakit bagiku, yang sudah begitu kuusahakan tetapi gagal, yang tentunya bukan kuasaku. Menerima ternyata adalah hal yang harus kuusahakan ...

Buat Apa

Lebih dari sebulan tapi masih terngiang dengan jelas, satu diantara sekian nasihat yang disampaikan Ust. Salim A. Fillah dalam bedah bukunya Lapis-lapis Keberkahan; bila saat meminta sesuatu padaNya  kita bisa menyebutkan buat apa kita memintanya, in sya ALLAH akan lebih mudah menjawab pertanyaanNya di hari hisab kelak. (Salim A. Fillah, dengan sedikit gubahan) Lalu, gambar-gambar tak utuh muncul satu demi satu dikepalaku; perempuan dengan senyum mengembang dan mulut komat-kamit menyampaikan inginnya hati. Gambar lainnya, perempuan yang sama namun tak ada senyum merekah disana melainkan bulir-bulir menggelinding membasahi ujung jilbabnya sedang sesenggukan menyampaikan segala yang katanya kebutuhannya.  ............................................................. Seperti sedang bernolstalgia bukan? Sayangnya aku sendiri tidak berhasil menemukan apa yang menjadi jawaban dari “buat apa?” dalam riang maupun gerimisnya saat meminta. Kalaupun ada, aku tak begitu yakin ...

pernah

 pernah ada masa, sendiri menjadi teramat dibenci maka pertemuan menyeluap jiwa menjadi bahagia. pernah ada masa, bersua menjadi perekat akrabnya jiwa. pernah ada masa, bersama memintal satu demi satu asa, menjadi cerita yang membuahkan gelak tawa bahagia. pernah ada masa, kini telah menjadi lalu. masa punya cerita, tak melulu bahagia, sedihpun tak selamamnya. benar ia, semua tergilirkan disemesta dunia. Maret membangun 22 maret 2016 office 

Pada Akhirnya

empat huruf spasi delapan huruf tersemat banyak perjuangan yang memuarai segala keresahan, kelelahan , air mata, senyum ikhlas dan tentu hasil perjuangan, Pada akhirnya. Pada akhirnya, semua tanya akan menjumpa jawabnya. Pada akhirnya, yang ter-usaha akan menuai hasilnya. Pada akhirnya, tiap pertemuan akan menjumpa perpisahan. Pada akhirnya, perpisahan akan menjumpakan kita dengan pertemuan. Pada akhirnya, tiap penantian akan selesai jua. Pada akhirnya, rindu akan luruh. Pada akhirnya, aku dan kamu menjadi kita. Pada akhirnya, apakah kamu? Pada akhirnya, apakah aku? Senja, 8 oktober 2015 Pada akhirnya, semoga #menulis24 Tags: orat-oret

Khawatir

senja, dalam hidup, ternyata kita butuh rasa khawatir, kau tahu mengapa? Agar kita selalu berhati-hati dalam melangkah, agar kita tak terlalu ber-euforia ketika bahagia, pun agar kita tak hanyut dalam nestapa ketika sedih menjumpa. Maka tak  mengapa senja bila sebagian besar rasamu diselubungi kekhawatiran pada apa-apa yang kau lakukan, asalkan rasa khawatir tak kau jadikan alasan untuk menghentikan langkah. Menjadikan mundur dari tiap rencana. Beruntunglah senja bagi tiap jiwa yang dianugerahi rasa khawatir dalam hidupnya, tiap rencana selalu dia sertai dengan doa dan usaha yang tiada mengenal lelah nan payah. Tiap hasil yang tercapai tak menjadikan dia berbangga dan lupa bahwa kesemuannya adalah anugerah –Nya. Maka bersyukurlah senja pada rasa khawatir  yang DIA beri, pada tiap capaian yang tergenggam atas iringan kekhawatiran. Khawatir itu perlu bahkan butuh Senja, 3 oktober 2015 Yang tiada lengah disusupi rasa khawatir #menulis24 Tags: orat-oret...

Segara

DIA begitu Maha baiknya, pada yang sederhana, yang tak bisa berkata DIA titipkan cinta menghadirkan rasa lapang ditiap menjumpainya, laut. kamu tahu mengapa laut menjadi diantara hal yang aku suka? karena padanya, saat memandanganya, aku merasa begitu lapang, dengan begitu aku tahu tenang nan lapang adalah soal hati yang mampu menerima, menampung tiap sesal, kecewa dan payah yang dirasa. layaknya laut, menjadi muara segala air, menjadi rumah bagi yang lainnya.dan laut tetaplah laut, tak berubah na mun merubah. lalu... pada hitungan tanggal yang entah sudah keberapa bilangannya, rasanya aku merinduimu segara.. kapan kita jumpa? :'( dengan segala keruwetan yang berujung pulang malam senja, 1 oktober 2015 #Menulis24 Tags: oratoret, bahasa hati 

Pertemuan

barangkali pertemuan adalah cara Dia mendekatkan sekaligus menjauhkan tiap-tiap jiwa. perjalanan waktu selalu membawa serta pertemuan dan perpisahan. teruntuk pertemuan, bagiku itu tak selalu tentang bertukar nama, saling menanggung senang maupun sedih melainkan pertemuan pun adalah wajah lain dari perpisahan. kamu tahu mengapa? karena pertemuan akan meminta waktu bahkan rasa yang kita punya dari jiwa-jiwa sebelumnya.  seperti halnya aku yang kini berjarak darimu karena sebuah pertemuan yang tak ku rencanakan. Si Mentari Senja, 18 maret 2015  note: dibawah langit Balikpapan untuk sebuah pertemuan tags: orat-ore, #kamu 

Januari

Hidup berisi kepastian meski kau dilingkupi keraguan, percayalah hanya pada-Nya. hanya Dia sang penentu segala. Aku, merasa   mampu menerjang badai sekalipun. Telah lebih dari 23 purnama dan aku masih disini-sini saja. Masih mengharap yang sama. Awalnya ku kira semua akan segera mereda terlebih semua telah berlangsung lama tapi toh aku masih terusik dengan hal yang sama .   Seperti ada yang dengan tega, menusuk-nusuk jantungku. Merenggut semua daya yang ku punya, dan untuk kesekian kali aku tertawan oleh jerat yang serupa . Bagaimana bisa ini berulang? Bagaimana bisa orang jatuh di lubang yang sama bahkan lebih dari sekali dua? Apa yang harus ku lakukan? Mengadu padaNya? aku merasa malu untuk sekedar mengulang merapal yang sama di hadap-Nya   tapi apa yang harus diperbuat, hanya Dia yang mampu merubah segala. Menghalau yang kini kurasa ke tempat yang sebenarnya. (denga n lembutnya menyentuh hatiku dan menguatkannya) Engk au kah itu? Rabbi.. aku tak bisa m...

Hari 14

Barangkali hanya dengan berdamai kau bisa dengan mudah melangkah,  Bukankah DIA tahu segala? Dua minggu, waktu berlalu begitu saja. Sialnya aku masih begini-begini saja, berkutat dengan masalah yang semakin diipikir semakin mlipir. Aku tertinggal untuk kesekian. 14 hari, rasanya ini waktu yang cukup untuk mengambil sikap. Aku pun telah benar-benar merasa bahwa tak ada lagi waktu yang tersisa untuk berleha-leha, tak boleh (lagi) memberi ruang kepada ketakutan-ketakutan menjajah pikiran. Bukannya aku membenci pikiranku, hanya saja aku tak cukup berani melawan ketakutan yang terlahir dari pikiranku sendiri.   Sepersekian menit, kesadaran  itu hadir  menyentak pikiran, melumat hati yang tak lagi lapang. ................................................... Gerimis. Tetes-tetesnya mulai menggenangi ruas pipi. Sekelebat bayangan memenuhi memory. Mendapati seorang perempuan dengan lantangnya menuturkan satu demi satu mimpinya, seakan hari esok ...

Sastra, mewarna (Aku) Ruang

Sejak kapan mencinta sastra? Sejak aksara mewakili rasa, sejak metafora menjadi bahasa jiwa. Tak pasti kapan terjadinya, ketertarikan ini kian menggunung rasanya. Seperti  fenomena gunung es, dari jauh terlihat kecil tapi didalamnya (sila dijawab sendiri). Kalau diingat-ingat, ini bermula sejak ketertarikanku pada tulis-menulis mengemuka. Awalnya hanya curhatan biasa. Namun, tak hanya disitu ujungnya, aku mulai merambah dunia membaca (etapi membaca sudah kulakukan sebelumnya, hehe) specialy pada bacaan bergenre sastra melankolik; prosa, puisi,de el el. Jatuh lah aku padanya, pada sastra yang menenangkan jiwa, pada sastra yang membawaku terbang sejauh-jauhnya, lantas bersembunyi tepat pada aksara-aksaranya. Benarlah sudah apa yang dikata Umar bin Khatab ra: “ajarkan  anakmu sastra, agar anak yang pengecut menjadi pemberani ”. Ya sastra, memberanikan diri mengungkap yang semestinya, menjadikan bahasa sebagai penyampai pesan terhalus bagi para pendengarnya. ...

Ruang (dan) Kita

Image
taken from : antarafoto.com Tak pernah tahu, apa yang ada didepan, terhalang pandang yang memang samar. Maka tetap bertahan, tetaplah berjalan. Tak pernah mampu, mengundur waktu, menghapus noda, mengubah yang telah diperbuat laku. Maka tetap bertahan, tetaplah berjalan. Ada kesempatan, menyempurna kurang yang telah lalu. Ada peluang mencipta karya, menjejak di semesta. Maka tetap bertahan, tetaplah berjalan. Itulah kita bersama ruang dengan batas: nalar-rasa. Si Mentari Senja, 29 Mei 2014 tags: orat-oret

Matahari cinta (jarak) Kita.

Image
taken from : www.athba.net Ia, tertakdirkan untuk menjadikan kita mampu melihat, maka ia adalah mata kita.Menjadikan hari kita penuh corak: panas, terik, hangat. Mengajarkan kita arti tulus dalam memberi,   karena ia matahari.    Bukankah kita senantiasa berjumpa dengannya? Dan bukankah itu menunjukkan betapa kita mengenalnya? Benarkah? Seprtinya kita tak yakin?? Maka mari kita berkenalan. Namanya Matahari, tapi kau bisa memanggilnya dengan mentari atau surya. Sesuai teori manusia, ia terlahir sekitar 4,6 miliar tahun yang lalu * , terlahir dikarenakan peluruhan gravitasi suatu wilayah di dalam sebuah awan molekul besar * . Matahari, bentuknya hampir bulat sempurna, berdiameter sekitar 109   kali diameter bumi * . Matahari, berjarak 1,49 x 10 8 km * . matahari, keseluruhannya bisa disebut api, dari sinilah matahari memberi cahaya pada bumi dan semesta lingkaran galaksinya.  Matahari, kita telah mengenalnya bukan? Iya.   ...

Say >> N(e)O to Galau

Image
dari > http://tilulas.com/ Akhir-akhir ini sering galau, pikiran galau, tingkah laku galau dan tentunya perasaan juga ikut galau. Sejujurnya aku menyukai situasi ini, aneh bukan?? Tapi memang seperti itu adanya. Ketika galau, perasaan begitu mendominasi, hingga membumbung tinggi dan ketika tak sanggup lagi, membaginya pada pendengar sejati ( my mentari dan si pintu darurat > maaf ya ngerepotin mulu), sering juga blog pribadi jadi pelarian (sastra/nulis) diri.  Argh.. tetiba sadar, aku ini sampai kapan seperti ini : “dikit-dikit galau, galau kok dikit-dikit” -__-‘.   Rasanya, menjadi manusia galau nomero uno in de world, it’s not awards!!. Lah terus…?? Udah insyaf ya?? || Emang galau itu dosa??   || #heh?? || Hihihi.. || bukan insyaf tapi tepatnya bangun, karena galau bagiku artinya tidur. Tidur dengan di nina bobokan asumsi-asumsi liar tentang peristiwa yang sedang in dalam siklus hidupku. Kalau asumsi sedari awal telah liar maka bisa di tebak kan impact...