Posts

Showing posts with the label prosa

Bulan, akhir sebuah rasa

Image
Bersandar pada dahan yang lapuk, berharap pada angin yang tak pernah setia pada satu arah, seperti aku pada kamu, matahari. Ini kali keberapa aku mengatakannya? Aku tak pernah tahu persis tapi telah kuputuskan, sepertinya melepas adalah cara terampuh untuk bahagia, kamu pun menginginkannya bukan? Aku adalah tawanan setiamu dan anehnya aku bahagia menerima tiap luka yang hadir atas penawanan itu. Bukankah ini bodoh? Tak seorangpun di dunia ini menginginkan luka namun ada yang dengan  sadar menerima tiap perih yang hadir atas luka yang kian menganga. Tiap kali penyesalan itu menghampiri, tiap kali itupun ia menerima rasa sakit itu. Aku adalah bagian dari  mereka. Tapi itu dulu, beberapa waktu sebelum aku memutuskan melepasmu. Melepasmu, tak lagi berprasangka itu adalah aku. Melepasmu, membentangkan ruang penerimaan seluasnya untuk takdirNya. Aah.. kamu tahu meskipun aku terlihat  begitu percaya diri akan hal ini namun sungguh aku sedikit meragu maka aku tak...

i'll be there~ InsyaALLAH

Image
Bandung adalah kota perasaan  -Kurniawan Gunadi- Aku tak benar-benar tahu sejak kapan memiliki rasa ini, rasa rindu   (pada sesuatu bukan seseorang) yang minta untuk segera di tuntaskan!!. Bandung, ini adalah kota yang hampir membuat penuh rongga rindu ku itu.  Mungkin ada yang bertanya, mengapa harus Bandung? Bukan korea saja. Bukankah sedari awal kau telah menyukai korea? :) Sejujurnya akupun tak tahu pasti alasanya, hanya saja korea terlalu jauh untuk menjadi pijakan pertama setelah lulus kuliah dan menjadi awal mula cerita dari   terlewatnya seperempat usia.  Tapi harus ku akui yang kian kesini menarik hati ke bandung adalah beberapa penulis yang tulisanya ku sukai berasal dari kota ini, meski tak semua asli orang sunda. Beberapa tulisan mereka seolah telah mengajak ku berkeliling kota dengan berkendara rasa.  Bandung, kota yang kini di nahkodai oleh kang Emil ini telah benar-benar membiusku. Aroma jalan bekas singgahan hujan, g...

Mata dari Lingkaran Cahaya

Image
manusia istimewa karena hati dan akalnya, namun tanpa penglihatan yang istimewa sepertinya terasa biasa saja. Jika ditanya apa yang paling disyukuri dari kehidupan selain kesempatan peroleh hidayah hingga (istiqamah insyaALLAH) di hari ini ialah memiliki mata yang mampu menangkap cahaya dan warna. Perempuan itu telah sekian lama rabun matanya. Dia tak mampu melihat  dengan benar, hanya meraba-raba, jadinya dia dibantu kaca mata. Beberapa bulan terakhir, perempuan itu benar-benar kehilangan kemampuan melihatnya, meski ini sudah dia alami sejak lama. Namun kali ini berbeda, dia sungguh tak lagi bisa membedakan sesuatu yang berada jauh dari tempatnya. Ya, perempuan itu kehilangan kaca matanya. :’( Tapi perempuan itu tak benar-benar menyesalinya, karena katanya : “aku lebih suka memandang  segalanya tanpa sekat  frame kaca mata”. Begitulah tiap hal dibawah langit biru ini, kehilangan sesuatu bisa berarti mendapatkan sesuatu. Dan perempuan itu mendapatkan ras...

sahabat jiwa

Image
Raga akan berkalang tanah, jiwa akan kembali pada Tuhannya, namun akan ada yang tetap dikenang dari yang telah berpulang, ialah jejak. Malam itu, di bawah temaramnya purnama, tetiba ingatanku memutar ulang kenangan kita, aku mendapatimu tersenyum ceria selepas penatnya meyelenggarakan agenda, mendapatimu terburu-buru karena tak mau mereka menunggu, mendapatimu diam-diam meneteskan bulir air mata, mendapati kita yang saling berpeluk mesra menguatkan masing-masing jiwa.  Aku dan kamu telah memilih menempuh sebuah jalan, dari tempat dan waktu yang sama. Detik berganti menit, berganti jam, berganti hari. Bulanpun telah menggenap tahun, perjalanan kita tak ubahnya kapal yang mengarungi birunya samudra.  Sudah banyak tempat yang kita singgahi, sudah banyak hal yang terlakoni, sudah banyak jiwa yang kita temui, katamu:” perjalanan ini telah menjadikanku sebagai aku, terimakasih pada Dia yang telah menghadiahi perjumpaan dan kebersamaan”.   ..................

Rel..

Image
taken from : www.kampus-sipil.com Aturan dalam agama kita ibarat rel kereta dan tentu kita adalah keretanya.   Untuk sampai di stasiun, kereta harus tetap berjalan di atas relnya. Bagaimana jika kereta tak memiliki rel? Tentu ia tak akan mampu bergerak, tak akan bisa mencapai tujuannya. Bagaimana jika ia tak berjalan diatas relnya? Mungkin saat itu ia sedang menabrak sesuatu hingga terpental keluar dari relnya. Seperti halnya kereta begitupun kita, jika tak ada aturan dalam agama yang mengatur seluruh hidup kita, tentu kita tak bisa benar-benar hidup, pun jika aturan itu ada namun kita tidak menjalankannya, maka tak ada bedanya kita dengan kereta yang terpental dari relnya. Lalu, bagaimana bisa kita peroleh janji-Nya? Si Mentari Senja, 10 Oktober 2014 Tags: inspirasi,prosa

Jalan.....

Image
Kepada jalan sep e rtinya saya perlu menghaturkan terimakasih, bersebab hadirnya saya mampu menemukan beberapa remah kenangan, bersebab hadirnya pula saya bisa melepaskan bertumpuk beban. Berjalan bagi kebanyakan orang adalah aktivitas yang biasa saja seperti aktivitas-aktivias lainnya. Mengayuhkan kaki sampai tujuan, melewati   jalan tanpa hambatan, menyebrangi zebra cross, melewati tikungan dan bahkan menempuh jalan tikus. Tak ada spesial dari satu demi satu langkah yang terayuh bahkan sebagian besar hadiah dari perjalanan yang di diterima adalah hanya kelelahan.  Tak bisa saya dustai itu pun saya alami, tapi cobalah lebih dalam resapi tiap langkah yang kau pijak, tiap ruas jalan yang kau lewati, tiap hembusan angin yang dengan lembut merambat di pipi, bahkan tiap lelah yang kau terima, adalah sebuah moment yang tak bisa kau ulangi bahkan bilapun kau tetap berjalan di jalan yang sama di tiap harinya. Bertumpuk moment itu kita sebut sebagai kenangan, sesuatu ...

AHAD

Ahad, bukan satu karena satu dapat berbilang, bertambah,berkurang, melainkan ahad adalah Esa. Ahad, kata yang mengabadikan ujian cinta hamba-Nya dipadang pasir nan panas terik.  Maka ahad adalah kata cinta dari muadzin sang rasul Bilal bin rabbah.  Ahad adalah sandi pembeda diperang pertama melawan kafir durjana, Badar. Ahad, adalah ketundukan nan kepasrahan kepada Sang penentu takdir semesta, bahwa segala takdir dari-Nya adalah kebaikan bagi setiap jiwa. Ahad, adalah pengakuan akan keagunganNya,bahwa Sang Pencipta nan Pemilik Jagad raya tak boleh berbilang dalam angka melainkan Ia yang Esa . Ahad,  ALLAH Azza wajallah.  Si Mentari Senja, 19 Agustus 2014 #prosa