Posts

Patah

Tak akan ada yang melangkah bila sedari mulainya ia telah tahu akan ketidak sampaiannya. Lalu, dunia akan sepi tanpa rapalan harapan. Ini cara sekian yang kau ikhtiarkan untuk memperjuangkan apa-apa yang kau namai impian. Tujuanmu telah kau tetapkan, jalanmu telah kau pilih jua. Telah kau hitung segala yang bisa terjumpai diperjalananmu ini. Kau sadar, jalan yang kau yakini sebagai jalan yang baik nan lurus tak akan selamanya mulus. Ada  kerikil hingga lubang lebih dari selebar kolam yang siap sedia menghadang perjalananmu. Tentu ini bukan hanya berlaku untukmu, bersebab hidup memanglah ujian itu sendiri bukan. Lalu, dicara sekian diperjalananmu meraih impian ini, kau dipertemukan dengan lubang bernama perasaan, ia gelap, pekat, tak tahu dimana dasarnya. Kau tak punya pilihan selain melewatinya. Kau terus berjalan dengan ditemani bekal yakinmu. "Ini akan berakhir, semakin pekat semakin dekat dengan fajar, serupa malam", batinmu. Sesekali kau menengok kebel...

Jendela

Image
Fashbir shabran jamiilaa Kau sedang terperangkap dalam ruang yang bernama dirimu sendiri, didalam sana kau hanya mendapti dirimu seorang dengan setumpuk tanya ; mengapa demikian? Mengapa aku? Mengapa sekarang?. kini tanya itu bermatamorfosa menjadi masalah di sudut pandangmu. Diruang itu ada sepasang pintu dan jendela yang membuatnya tak segelap pikiranmu. Tapi kau memilih untuk bertahan didalam sana, padahal kau memiliki lebih dari sekali kesempatan untuk keluar dari sana. Bukankah ini artinya kau telah jatuh pada masalah disudut pandangmu sendiri? Kau yang memilih bergumul dengannya, benar bukan? Baiklah, katamu sulit menjangkau pikiran gelapmu sendiri kan? Katamu sulit melangkah ke arah pintu apa lagi untuk membukanya bukan? Sekali ini saja, cobalah melangkah ke arah jendela didepanmu itu, tak perlu kau buka, tapi cobalah tengok diluar sana. Adakah kau seorang yang dirundung tanya? Apakah hanya kau saja yang dihampiri masalah? Tidak, dunia ini bukan hanya berisi d...

Teruntuk

Image
by me Tak ada yang  hilang sebab tak ada yang pernah ditemukan Tak ada yang harus direlakan sebab sedari mula tak memiliki apa-apa. Bila diri ini bukanlah milik sendiri, lantas untuk yang lain mengapa merasa berhak memiliki?                 Teruntuk hati, kuatlah.  tags : RuangRasa

A

Image
terbanglah menuju rumah Kau bertanya tentang perjalanan, sepasang kaki yang hampir terbiasa sendiri. Lari, berhenti, berjalan. Tak maukah kau ditemani? Kau bertanya pada hati yang telah lama menunggui wujudnya sebuah janji.  Apa yang membuatmu bertahan dalam tanda tanya? Kau bertanya tentang sebuah pemberhentian. Tempat dimana segala penat diluruhkan dan senyum tiada cukup sekali disunggingkan. Adalah rumah. Bolehkah itu aku? Aku, sepasang kaki yang berharap seperjalanan denganmu menuju rumah kita yang abadi.

06012017

“bagaimana ini? Semua sudah pada mau pulang. Sebentar lagi malaikat datang. Apa Bapak bisa jawab tiap pertanyaan?”. -percakapan jum’at kelabu- Jum’at pertama di 2017, sebuah takdir bernama kehilangan bertamu dikediaman seorang sahabat. Ia datang tentu dengan titah dari Sang Maha Pemilik semesta, membawa pulang apa yang DIA titipkan. Jum’at berkabung itu benar diselubungi kelabu, langit pun seolah mempertegas takdir yang telah DIA tetapkan jauh sebelum hadirnya kita di dunia. Maka bila langit saja dapat kelabu hingga merinaikan hujan dariNya apa lagi hati. Sekuat apapun manusia, pada kehilangan tentu hatinya rapuh jua, entah sebentar atau dalam waktu yang lama.

“mengapa” menjadi “untuk apa”

Doa, Ra, doa mengajarkan kita tentang kebaikan dariNya yang lagi-lagi membanjiri hambaNya. Diilhamkan kepada kita untuk meminta padaNya agar dekat denganNya, dikabulkan doanya meski dalam bentuk berbeda juga bagian dari takdir baikNya. Tapi kau tahukan Ra, kadang doa kita pulang tak sesuai yang kita harapkan, diwaktu yang tak kita inginkan. Lantas kita menduga; mengapa DIA tak mengabulkan pinta kita? Mengapa yang hadir berbeda? Mengapa? Mengapa? Bukankah pada pengabulan juga terdapat ujian?. Ujian kepercayaan. Ujian berbaik sangka pada tiap takdirNya. Hingga kita bisa mengubah pertanyaan dari; “mengapa” menjadi “untuk apa”. Ya, untuk apa semua ini kita perlu alami? Untuk apa doa kita diijabah berbeda?

Doa

“ Aku tidak memikirkan tentang pengabulan doa. Yang aku pikirkan bagaimana aku bisa berdoa, Karena ketika aku diberi ilham untuk berdoa, maka pengabulan akan selalu menyertainya” .  -Umar Bin Khatab, ra- Segara, tiap kita tentu pernah melangitkan doa bukan. Doa yang kita yakini akan diijabah olehNya diwaktu yang paling tepat dan dalam bentuk yang kita butuhkan menurutNya. Keyakinan kita bukan berdasar pada katanya tapi kata DIA yang tertoreh dalam firmanNya sejak 1400 tahun silam. Ra, bukankah kita juga telah mafhum bahwa semesta yang kita huni ini termasuk diri kita tak luput dari pengaturanNya? Daun yang gugur saja DIA telah tetapkan waktunya apa lagi perihal hambaNya. Termasuk doa kita. Kapan dan apa yang akan kita pinta juga termasuk didalamnya bukan? Sederhananya, seperti kata Umar diatas, doa yang kita panjatkan adalah ilham dariNya. Maka bukankah itu berarti ilham untuk meminta telah DIA sertakan pengabulan dari Nya? DIA mengilhamkan kita untuk berdoa Karen...