Sebuah
cita-cita besar,, sebuah visi yang agung dan tujuan yang kekal,,
semestinyta ia mampu menjadi HIJAB yang TEBAL, KOKOH, dan KUAT bagi kita
agar terhindar dari MENDURHAKAI ALLAH dan RasulNya..
Kepada jalan sep e rtinya saya perlu menghaturkan terimakasih, bersebab hadirnya saya mampu menemukan beberapa remah kenangan, bersebab hadirnya pula saya bisa melepaskan bertumpuk beban. Berjalan bagi kebanyakan orang adalah aktivitas yang biasa saja seperti aktivitas-aktivias lainnya. Mengayuhkan kaki sampai tujuan, melewati jalan tanpa hambatan, menyebrangi zebra cross, melewati tikungan dan bahkan menempuh jalan tikus. Tak ada spesial dari satu demi satu langkah yang terayuh bahkan sebagian besar hadiah dari perjalanan yang di diterima adalah hanya kelelahan. Tak bisa saya dustai itu pun saya alami, tapi cobalah lebih dalam resapi tiap langkah yang kau pijak, tiap ruas jalan yang kau lewati, tiap hembusan angin yang dengan lembut merambat di pipi, bahkan tiap lelah yang kau terima, adalah sebuah moment yang tak bisa kau ulangi bahkan bilapun kau tetap berjalan di jalan yang sama di tiap harinya. Bertumpuk moment itu kita sebut sebagai kenangan, sesuatu ...
Memasuki akhir dibulan oktober dua puluh lima tahun lalu, barangkali adalah hari-hari terpayah untukmu. Rasa sakit yang telah Sembilan bulan membersamaimu, memasuki puncaknya. Saat itu apa yang menguatkanmu ibu? Apa yang membuatmu tetap kuat menerima sakit itu? Apa karena aku? Karena setelah berpayah dalam sakitmu kau bisa bertemu denganku? Ibu, bagaimana rasanya kau akhirnya melihatku tepat didepan matamu? Apa sakitmu telah mereda setelah aku benar-benar menghirup udara dunia? Ibu, aku pengalaman pertamamu, aku yang pertama kali membuatmu mencicipi rasa sakit Sembilan bulan lamanya. Setelah inipun aku masih menjadi yang pertama memaksamu untuk sedikit saja mencicipi nikmatnya tidur, siang maupun malam. Apa kau kepayahan ibu? Apa kau juga bingung atas tangisanku yang tak kau mengerti maksudnya? Ibu, aku sangat penasaran bagaimana kau melewati hari-harimu bersamaku dulu? Apa aku menyulitkanmu? Atau aku juga turut menghadirkan senyuman dihari yang kau lewati? Ibu, seiring be...
“bagaimana ini? Semua sudah pada mau pulang. Sebentar lagi malaikat datang. Apa Bapak bisa jawab tiap pertanyaan?”. -percakapan jum’at kelabu- Jum’at pertama di 2017, sebuah takdir bernama kehilangan bertamu dikediaman seorang sahabat. Ia datang tentu dengan titah dari Sang Maha Pemilik semesta, membawa pulang apa yang DIA titipkan. Jum’at berkabung itu benar diselubungi kelabu, langit pun seolah mempertegas takdir yang telah DIA tetapkan jauh sebelum hadirnya kita di dunia. Maka bila langit saja dapat kelabu hingga merinaikan hujan dariNya apa lagi hati. Sekuat apapun manusia, pada kehilangan tentu hatinya rapuh jua, entah sebentar atau dalam waktu yang lama.
Comments
Post a Comment