Posts

Rumah

Image
Karena kamu segara maka sudah tentu kamu adalah muara.  Tapi bisakah kamu juga adalah rumah? Segara, kamu tahu rumah kan? Setiap kita mendamba rumah kemanapun perginya, rumah semacam rindu yang tiada purna menjumpa akhirnya ketika langkah telah berjarak dari pijakan nayamannya, ya rumah. Bagimu rumah itu apa? Bolehkah aku membantu menjabarkannya segara? Bagiku rumah adalah ladang, ladang kebaikan, disana iman kita menyatu, visi kita ketemu, langkah kita seirama menujuNya. Bilapun ada hambatan, kita tahu di rumah yang telah menyimpul aku dan kamu menjadi kita adalah riak-riak bahagia versi lainnya. Hambatan itu akan kita sulap menjadi peluang menyemai benih kebaikan di ladang kita, rumah kita.  Maka rumah kita, haruslah menjadi rumah cahaya, rumah yang dengan mudah terdengar ayat-ayatNya bukan sumpah serapah atau makian, rumah yang memenuhi hak tetangganya, rumah yang menenangkan nan membetahkan namun tak memalaskan dan melenakan. Maka rumah kita, tak per...

Tujuan Kita

Apa yang ada dalam benakmu bila senjamu adalah yang memilki cita berbeda denganmu? cita dunianya pun cita akhiratnya? Apa itu tak masalah bagimu? Apa hanya karena telah seagama menurutmu dunia dan akhirat bisa kamu raih dengannya? Tapi aku tidak segarA, menurutku semua itu adalah masalah yang tak sederhana. Bukankah kebersamaan kita adalah wujud dari cita dunia dan akhirat kita? Bahwa bersama akan membuat kita aman di dunia dan akhirat, maka bagaimana semua bisa terwujud bila cita tiap-tiap kita beda? Maka  bukankah seagama saja tak cukup segarA? Kita butuh sama yang lebih dari segama Karena seperti kata kica dalam Teman Imajinya, seagama belum tentu seiman, seiman pun belum tentu se-tujuan (sefikrah).   SegarA, aku berharap kita adalah yang segama pun seiman dan tentunya punya tujuan yang sama, karena kata Kurniawan Gunadi; tujuan yang sama akan mempertemukan orang-orang dalam perjalanan.  Maka untuk bertemu kita tak boleh hanya seagama kan? karena  aga...

Kebaikan Kebenaran

Kebaikan dan kebenaran kata guru saya itu serupa emas, semua orang suka emas kan? Tapi tak semua orang bisa memilikinya, ya karena untuk mendapatkannya butuh pengorbanan. Ku kira membersamai kebaikan dan kebenaran itu mudah, jalannya mulus pun lapang tentunya, bertabur bunga dan wewangian sepanjang perjalanan dengannya maka manusia tentunya menyukai dan ingin bersamanya. Tapi aduhai, itu hanya kiraan ku saja, karena  kau tahu untuk memulainya apalagi setia bersamanya membutuhkan perjuangan yang akan menguras habis pikiran, tenaga dan tentu rasa. Barangkali kamu akan bertanya; mengapa Dia izinkan yang demikian? Mengapa ketika memulai kebaikan sudah mendapat ujian? Karena bukankah hasil yang kita terima adalah surga yang sudah barang tentu mendapatkannya tak mudah? Karena barangkali Dia ingin melihat seberapa seriusnya kau menujuNya. Dunia yang kau ingin menggenggamnya saja kau kerahkan segala upaya, kau luangkan semua waktumu yang ada, maka apalagi untuk kebahagiaan...

Mula

Barangkali Kamu akan terheran-heran atau merasa aku adalah satu diantara keanehan. Bersebab lampu jalan bagiku adalah satu diantara yang mampu mengirimkan ketentraman dariNya. Tapi itulah aku, senja. Seperti biasa, aku bila penatku telah mendominasi pikir dan rasaku maka berjalan adalah tentu menjadi pilihan, tapi entah, hari ini berjalan tak mampu membuat penatku terbenam. Sejenak undangan dari kesukaan ku yang lain menyapa, ku kira ketika disambut temaramnya penatku akan kabur dengan sendirinya, tapi bak pungguk merindu bulan, penatku tak kunjung hilang.  Berjalan lagi, matahari sudah tak mampu lagi bertengger ditempatnya, ya karena waktu malam untuk menyapa telah tiba, tapi penatku masih betah. (senyum membersamai gerimis ) ALLAH.. aku tahu musti kemana. Terimakasih sudah mengirim undanganMu. Laut, ya aku akan kesana meski malam telah benar-benar menyapa. Dibibir talut dimana aku duduk, berteman bintang yang aku tak tahu pasti berapa jumlahnya, pandanganku menjump...

Pahamilah, Sadarilah, Begeraklah

                        Tetaplah bersama, setialah hingga aku bertemu denganNya duhai kesadaran. Apakah untuk melahirkan langkah-langkah tak cukup dengan pemahaman? Bukankah paham - kita yang tahu kenapa, untuk siapa dan kapan memulainya - semestinya menjadikan kita tak lagi memberi ruang bagi alasan untuk duduk melenggang? hening membius sekitar, kepada yang sedang bertanya, jawaban itu datang menyapa: tidak senja, paham dan kesadaran tak selalu seiring sejalan sebab pemahaman tak selalu mampu memberi jalan bagi kesadaran untuk tampil setelahnya.   Bukankah sudah kau baca kisah-kisah mereka; orang-orang yang terpandang karena kepahamannya, namun pahamnya membuat mereka berbelok arah. Kisah mereka terjejak nyata membersamai manusia Mulia. Mereka: Walid Al Mughirah dan Amr bin Hisyam (Abu Jahal). Walid Al Mughirah; kalimatnya bahkan ALLAH abadikan pada salah satu surah cintaNya, Surah Al Mudatsir. Di...

Senja Pada Segara (Serial)

Dear readers, terimakasih telah membersamai perjalanan blogku. Terimakasih atas kunjungan yang entah telah kali keberapa. Moga tiap aksara yang terhimpun dalam kalimat dan paragraf membawa kebaikan bagimu dan aku. Maafkan, atas typo yang tak terhitung banyaknya, moga tak jelimet ketika menjumpanya. Dear readers, malam ini aku akan memulai mem- post sebuah serial. Serial SENJA PADA SEGARA. Perjalanan SENJA di(me)temukan muaranya, SEGARA. Tak setiap  hari mungkin, insyaALLAH seminggu sekali (mungkin juga lebih) aku akan mem post serial mereka. Hope you enjoy read that :) Senja Segara 2 tahun sebelumnya: Perkenalkan semesta, namuku senja. Aku, perempuan yang dianugerahi begitu banyak kenikmatan oleh Rabb Semesta Alam. Aku, perempuan yang penuh dengan ketakutan, bagiku ketakukan adalah kehati-hatian, namun sayangnya kehatian-hatian membuatku kepayahan mengelola nikmatNya yang bertaburan. 2 tahun setelahnya: Aku, segara. Katanya, kata perempuan itu, mmmm… senja...

Ada

Image
taken by: CSD Ada yang dengan perlahan mengetuk. Ada yang meski jauh namun mampu menenangkan nan menguatkan. Ada yang meski tak pernah bertemu namun mampu meyakinkan bahwa tiap takdirNYa adalah baik adanya-untuk kita. Ada ya-itu kamu. Senja, 2 november 2015 Terimakasih kamu tags: #kamu, bahasa hati