Posts

DIA

Betapa ALLAH Maha Baik ya segarA, telah DIA tetapkan hati kita untuk cenderung merasa nyaman dengan kebaikan, lalu DIA kirimkan bala bantuan untuk menjadikan kita menang ditiap proses ujian kebaikan dan DIA hanya menilai proses yang kita lalui bukan hasil yang kita torehkan padahal DIA juga memudahkan proses itu.   Moga ditiap kebaikan yang sedang kita upayakan selalu tertakdir kemenangan ya rA, menang atas ujian . :’) seNja, Agustus 2016 Tags: Inspirasi

Teruntuk Tiap Tanya

Menyadari betapa DIA telah menetapkan yang terbaik bagi hambaNya termasuk dirimu itu memang tak serupa matahari yang tak pernah lupa sekalipun untuk terbit, kadang kau akan dihujani tanya dan rasa yakinmu seperti sedang ditimpa gempa. Hidup katamu kelihatannya serupa benang kusut yang basah pula. Dibenakmu ribuan tanda tanya itu menjumpa dalam rupa peristiwa; “ada  yang datang, menetap, pergi, meninggalkan jejak. Semua itu untuk apa?.” Peristiwa-persitiwa itu ada yang berulang meski dengan wajah yang  berbeda, ada yang tak kau sangka-sangka. Ada yang menghadirkan tawa hingga kau merasa ingin berlama selamanya, namun ada juga yang tak hanya sekali menghadirkan gerimis hingga deras melebat. Lalu kau dapati dirimu sendiri, bergumul dalam tanya yang lagi-lagi  dijawabNya dengan peristiwa, kali ini kau lebih peka, kau dimampukan untuk menyadari makna dari tiap jiwa yang kau jumpa. Bahwa setiap jiwa adalah guru bagi dirimu, meski yang paling menghadirkan luka s...

Menunggu, Jangan(?)

Akan ada masa dimana semua terasa tak bergairah, terasa tak berukhuwah. Lalu lingkaran kita melonggar hingga tak berpola. Mimpi kita menerawang di udara, pikir kita saling beradu dalam kata. Kaki kita saling menjauh dalam langkah. Apa lagi rasa, jangan ditanya, ia tak lagi peka menyambung kita. Lantas diam, kita memilih menunggu dalam diam. Menunggu pada seruan yang menggerakan kita. Pada langkah yang mendekatkan kita. Pada rasa yang merekatkan kita. Tapi, tahukah kita? Menunggu tak selamanya berbuah jawab yang kita harap. Karena kadang yang kita tunggu pun sedang menuggu (kita). Maka luruhkanlah menunggumu, jangan jadikan ia candu, meski memulai dan menunggu tak sesederhana itu.   Dear langit :’ SeNja. 19 Juli 2016 sedang berpayah menggusur menunggu  tags; RuangRasa 

Pintu F

Menyesal itu barangkali selalu menghadirkan tanya; dapatkah diulang kembali? Dan jawabannya dapat dipastikan; tidak, sengingin apapun kau! Beberapa tahun silam ada sebuah pintu yang selalu aku ketuk disaat sempit ataupun lapang. Pintu itu memang selalu dibuka disetiap kali aku mengetuknya. Aku selalu ingin melewati pintu itu, karena setelah melewatinya ada senyum yang tiada lelah disunggingkan, ada rinai yang tak pernah sendirian. Aku kecanduan, darinya sendiri itu seperti tak pernah ada. Lalu, alur cerita jadi terlalu berbeda. Aku sulit memainkan karakter didalamnya. Sudah kucoba untuk biasa saja, hanya saja semua sudah tak biasa, yang ada aku hanya berpura-pura. Aku memilih untuk enggan mengetuk pintu itu lagi, setiap kali ingin itu hadir tiap kali itu pula aku mengutuknya, mengerahkan segala daya untuk tak menuju pintu itu apa lagi mengetuknya. Sambil berkata; sendiri itu tak mengapa (saat itu aku bohong). Tak mudah mengubah kebiasaan. Aku sakau, bila ada kata yang mewa...

Hamba

Perasaan hampa yang mendekam dalam jiwa barangkali pertanda ada yang kau butuhkan lebih dari sekadar waktu luang untuk katanya liburan, karena bukankah liburan tak serta merta mengusurkan kosong di hatimu? Telah kau terima waktu untuk menghapus habis segala penat dan jenuh yang memenjarakanmu. Telah kau kunjungi yang katanya tempat penghilang penat, tetapi selepas itu penatmu masih disitu. Telah kau jumpai segaramu, meski saat itu kau bisa menarik nafas dengan riangnya, namun selepas itu (lagi) hanya ada hampa yang setia menemanimu. Kau bertanya;” adakah yang salah dengan ini semua? Adakah yang belum aku lakukan untuk sekadar merasa lebih ringan? “ Barangkali yang kau butuhkan adalah jujur pada dirimu bahwa hampa itu adalah pertanda kau telah memandang dari sudut yang salah, bahwa bahagia yang kau cari bukanlah tentang seberapa luang yang kau punya untuk menikmati ‘dunia’ melainkan seberapa siap kau melepaskan ‘dunia’ untuk kembali menjalani tujuan hidup yang sesungguhnya ...

Buat Apa

Lebih dari sebulan tapi masih terngiang dengan jelas, satu diantara sekian nasihat yang disampaikan Ust. Salim A. Fillah dalam bedah bukunya Lapis-lapis Keberkahan; bila saat meminta sesuatu padaNya  kita bisa menyebutkan buat apa kita memintanya, in sya ALLAH akan lebih mudah menjawab pertanyaanNya di hari hisab kelak. (Salim A. Fillah, dengan sedikit gubahan) Lalu, gambar-gambar tak utuh muncul satu demi satu dikepalaku; perempuan dengan senyum mengembang dan mulut komat-kamit menyampaikan inginnya hati. Gambar lainnya, perempuan yang sama namun tak ada senyum merekah disana melainkan bulir-bulir menggelinding membasahi ujung jilbabnya sedang sesenggukan menyampaikan segala yang katanya kebutuhannya.  ............................................................. Seperti sedang bernolstalgia bukan? Sayangnya aku sendiri tidak berhasil menemukan apa yang menjadi jawaban dari “buat apa?” dalam riang maupun gerimisnya saat meminta. Kalaupun ada, aku tak begitu yakin ...

Sisi Kelam

Image
taken by: noey hikari Jangan cintai aku apa adanya, jangan Tuntutlah sesuatu, biar kita jalan kedepan Tulus Dear segarA, sebagai manusia tentu kita telah menginsyafi lemahnya diri. Bahwa kita betapapun kebaikan itu mendarah dalam laku, sisi kelam tetap membersamai. Tentu aku termasuk didalamnya, pun kamu. Serupa bulan, yang tertampil dari kita dan tertangkap oleh indra mereka adalah kebaikan yang tengah dan telah kita laku-kan. Sedang aib, begitu rapi Dia tutupi.  SegarA, pernah kah kau bayangkan, aib kita tertangkap oleh lebih dari sepasang mata? Barangkali tak ada yang sudi mendekati apalagi mengakrabi diri. Atau pernahkah terlintas dipikiranmu, aib kita serupa bau? Semakin banyak keburukan yang kita lakukan, semakin bau aroma yang kita rambatkan. Maka betapa beruntungnya kita, karena Dia pemilik semesta telah sedia menutupi segala aib diri. Kesediaan Dia yang telah menutupi sisi kelam kita, bagiku itu semacam kesempatan untuk membenahi diri. Benar, kita ta...